Thursday, 3 July 2014

Alasan Forum Ulama Haramkan Memilih Jokowi-JK


Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) keluarkan maklumat haram untuk memilih pasangan Jokowi-JK dalam Pilpres mendatang. Alasannya, pasangan itu dianggap meresahkan dan mengancam eksistensi umat Islam. Pasangan itu juga dinilai akan berpotensi menciptakan iklim sentimen keagamaan yang dapat bermuara pada konflik horizontal.

Penilaian itu muncul atas keputusan dan rencana politik yang selama ini telah dinyatakan secara terbuka baik oleh institusi maupun oleh tim sukses bila pasangan itu berhasil terpilih. FUUI yang selama ini menyatakan bersih dari politik praktis, kini merasa wajib untuk memberikan pandangannya. Pihaknya menyatakan, sikap itu muncul agar umat Islam tidak salah dalam memilih pemimpin.

Putusan maklumat ini diakui telah melalui proses yang panjang. Sejak berdiri pada tahun 2001, FUUI selalu menghindar untuk masuk dalam ranah politik praktis. "Saya perlu pertegas, ini tidak dalam posisi dukung mendukung salah satu calon, kami berkomitmen hanya untuk memikirkan umat, kami bersih dari kepentingan politik praktis," ujar Athian Ali Ketua FUUI, kepada wartawan di Masjid Al-Fajr, Jalan Cijagra, Kota Bandung, Senin (30/6).

Dalam Plipres tahun ini pihaknya mengeluarkan maklumat dalam bentuk istihad syar'i. Hal ini diakuinya untuk membimbing umat Islam agar mereka bisa memilih seuai dengan syariat Islam. Ia juga menyatakan bahwa pernyataan resmi ini dikeluarkan untuk menyelamatkan umat agar tidak mengambil keputusan yang salah.

Athian sendiri mengakui bahwa sangat mungkin maklumat yang dikeluarkan akan terkesan mendukung salah satu calon dan menafikan calon lain. Namun, ia mengklaim bahwa putusan ini murni ditinjau melalui dasar syar'i dan hukum Islam. "Kalau sudah bicara hukum ini tentu saja kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT, dunia akhirat," katanya.

Ia menambahkan bahwa sebenarnya secara syar'i, pihaknya tidak melihat sosok ideal pada dua calon presiden. Menurutnya tidak ada satupun calon presiden yang dianggap layak untuk dipilih mewakili umat. Namun, dalam hal ini mereka harus melihat mana yang nilai kerentanannya (mudharat) bagi umat paling rendah.

Ia tidak menafikkan adanya ajakan salah satu pihak Capres agar FUUI memberikan dukungannya. Namun, FUUI tetap menyatakan sampai detik ini tidak pernah tereseret dan tidak ada hubungan dengan salah satu timses manapun. "Kami sedang berusaha memberi kesan bahwa kami tidak mewakili capres manapun, jadi kami nggak ada niatan untuk merapat kepada capres manapun," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa putusan ini dikeluarkan salah satunya berkaitan dengan niat kubu Jokowi-JK untuk memperjuangkan pencabutan ketetapan MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang Larangan Paham Komunisme. Hal itu menurutnya diikuti pula oleh keberpihakan kubu capres nomor dua itu kepada paham yang menurut Syariat Islam sesat, seperti Ahmadiyah, Islam Liberal, dan Syiah.

Pengharaman FUUI ini berangkat pula dari keinginan kubu Jokowi-JK untuk menolak Perda Syariat Islam. Hal ini diangap sebagai bentuk pernyataan terbuka terhadap kebencian pada Syariat Islam. "Karena secara UU No.11 tahun 2011 dan UU Otonomi Daerah sangat memungkinkan lahirnya sebuah Perda yang melindungi adat istiadat di daerah termasuk agama, pandangan, paham dan sebagainya. Seharusnya dihormati karena Islam salah satu dari enam agama yang diakui oleh negara," jelas Athian.

Suara Suara LN Tanpa Gambar Jokuwi Ternyata Palsu

Akhir-akhir ini media sosial digemparkan oleh beredarnya kertas suara Pilpres bergambar Capres no. 1 Prabowo Subianto - Hatta Rajasa tanpa ada Capres no. 2 Joko Widodo - Jusuf Kalla.

Foto yang di upload entah pertama kali oleh siapa itupun segera menyebar ke Facebook.

Saya mencoba menelusuri setiap
akun yang share foto tersebut untuk mencari kebenarannya. Ada 5 akun yang saya inbok untuk mendapatkan info dari mana dia mendapatkan gambar tersebut. Hanya satu akun yang membalas.

Akun yang saya inbok mengarahkan saya mencari nama akun dimana dia mendapatkan foto tersebut. Saya segera inbok yang bersangkutan dan dia menjawab bahwa foto itu dia dapatkan dari Mas-nya yang di Korea. Saya pun minta nama akun Mas-nya yang di Korea dan sudah saya inbok tapi belum dibalas.

Di grup Whatsapp pun tak kalah ramai membahas soal foto ini.

Penelusuran terus berlanjut dan kawan-kawan lain juga tak kalah sibuknya mencari sumber apakah benar ada BMI (Buruh Migran Indonesia -ed) yang mendapatkan kertas suara seperti yang beredar hari ini. Sayangnya penelusuran masih nihil dan pasti pihak KJRI dan PPPLN juga tak kalah sibuknya mencari kebenaran kabar ini.

Kalau dilihat dari semua foto yang beredar memiliki latar belakang dengan warna yang sama dan bentuk posisi sama. Sepertinya foto ini diambil hanya sekali lalu disebar ke media sosial seolah-olah banyak yang mendapat kertas suara dengan gambar hanya Capres no. 1 tanpa Capres no. 2.

Semua tidak tahu siapa yang menjadi penyebar pertama atau apakah memang ada kertas suara yang seperti ini. Entah dari Korea atau Hong Kong atau dari mana. Tapi malam ini saya dapat kabar lagi dari seorang teman yang berhasil inbok dan mendapat balasan dari akun yang di Korea, bahwa yang upload foto itu niatnya hanya becanda.

Berawal dari keisengan akun inisial US mengambil foto kertas suara dengan menutupi gambar Capres Jokowi-JK dengan kertas buku. Kalau diperhatikan dengan seksama bagian kertas kosong yang seharusnya bergambar Jokowi-JK ini adalah seperti kertas buku dengan garis-garis ke bawah.

Dan tanpa diduga sebelumnya foto ini pun heboh di jagad maya dan telah dimuat banyak media, keisengan ini pun dampaknya sungguh luar biasa. Banyak dari kedua kubu yang sudah saling caci maki di media sosial. Saling tuduh kubu ini pelakunya, kubu itu pelakunya bahkan menuduh KPU sudah tidak netral lagi.

Dari sekian banyak yang upload foto di Facebook, tak ada satupun yang bisa menunjukkan bukti fisik kebenaran surat suara tanpa gambar Capres no. 2. Semua foto yang beredar sama. Foto beredar pada Selasa sore dan heboh hari Rabu.

Saya berhasil mendapatkan jawaban bahwa foto ini hanya iseng tanpa ada unsur apapun apalagi untuk mengadu domba kedua kubu pendukung capres.

Semoga tulisan ini bisa menjawab kemelut yang terjadi. Bagi yang masih penasaran dengan kebenarannya, sila tanya ke akun Facebook dengan nama Rangga Corea.

*sumber: http://www.feranuraini.com/2014/07/terjawab-sudah-foto-kertas-suara-tanpa.html?m=1

Monday, 30 June 2014

Menjual Agama, Politisasi Kebhinnekaan


Melindungi Bhinneka Tunggal Ika dengan lebih tegas untuk semua warga negara tanpa diskriminasi.’ Itulah salah satu komitmen 100 hari pasangan Jokowi-JK jika terpilih menjadi presiden, untuk hidup dan bangsa dengan segera.

Bagi umat Islam, seringkali kebhinnekaan datang dengan menyakitkan. Tetapi ketika umat ini membutuhkannya, ia pergi begitu saja. Permasalahan jilbab polwan adalah salah satu contoh konkritnya.

Seringkali Islam juga dipojokkan, diposisikan sebagai antitesis kebhinnekaan. Namun faktanya, di berbagai belahan dunia banyak umat Islam kesulitan menjalankan ibadah yang menjadi keyakinannya, mendapatkan hambatan terkait jilbab, shalat, puasa, mengakses produk halal, dan sebagainya.

Pada banyak aspek, umat Islam terpaksa harus menerima kondisi sebagai minoritas, tahu diri untuk tak menuntut hak-haknya secara penuh. Tapi pada sisi lain umat Islam juga dituntut melepaskan hak-haknya sebagai mayoritas atas nama kebhinnekaan.

Islam telah memelopori sejak awal sebuah konsep, ‘Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).’ Artinya seseorang menjadi muslim bukan karena suatu keotomatisan, tetapi karena kesadaran dan pilihannya. Ini menjadi jalan tengah untuk menempatkan absolutisme dan relatifisme dalam posisinya yang tepat. Keyakinan atas kebenaran Islam membuatnya siap untuk berkompetisi.

Bukan toleransi semu dan bukan konsep toleransi yang tanpa arah, dalam arti bukan pemaksaan sepenuhnya dan bukan pembiaran sepenuhnya. Agar terbangun sebuah proses yang edukatif, semua memiliki akses secara terbuka untuk menentukan sebuah pilihan, yang akan dipertanggungjawabkan masing-masing kepada Tuhan Sang Pencipta.

Seorang muslim meyakini Islam akan membawa kebaikan dan keselamatan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Dari sini, seorang pemeluk agama yang baik semestinya memberikan kontribusi bagi agamanya, mewujudkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan. Namun di sisi lain, ada umat lain yang memiliki klaim kebenaran yang serupa, menurut keyakinan mereka, memposisikan muslim adalah domba-domba tersesat yang perlu diselamatkan. Atau dari sudut pandang atheisme, penganut berbagai agama dipersepsikan sama, sebagai komunitas yang tertipu suatu ilusi tentang Tuhan.

Keyakinan muslim bahwa Islam satu-satunya jalan menuju keselamatan, diikuti tanggungjawab untuk mengupayakan situasi yang kondusif untuk tumbuhnya agama ini, sekaligus tanggungjawab menawarkan Islam kepada mereka yang belum memeluknya. Sebaliknya juga berbuah konsekwensi jika umat lain berbuat serupa kepada kita. Idealnya kemudian terjadi kompetisi secara fair, bukan relasi yang saling curiga dan timpang.

Kenyataannya kemudian, konsep pluralisme lebih banyak menuntut,  ia hengkang ketika seorang muslim kesulitan mendapatkan hak-hak untuk menjalankan keyakinannya secara pribadi. Apalagi ketika seorang muslim menginginkan kondisi lingkungan yang kondusif untuk menjalankan keyakinannya, misalnya ingin mendapatkan perlindungan diri dari pornografi, konsep pluralisme tidak mampu memberi solusi atas nama kebebasan yang diusungnya.

Atas nama kebhinnekaan, terus bergulir wacana penghapusan identitas agama di KTP, menghapus pendidikan agama di sekolah, menghapus regulasi-regulasi yang berkaitan dengan agama, wacana menjauhkan agama dari publik, wacana yang menempatkan agama sebagai hama bagi kehidupan masyarakat.

Sebenarnya untuk apa sebuah negara didirikan kalau bukan untuk memfasilitasi kepentingan rakyatnya. Lantas hanya karena terkait agama, negara harus absen pada banyak kepentingan publik pemeluk agama. Negara tidak boleh memfasilitasi regulasi zakat, ekonomi syariah dan jaminan produk halal, karena terkait suatu agama.

Dari argumentasi agar umat Islam melaksanakan ibadah karena Allah bukan karena Perda atau Bupati, muncul wacana melarang perda yang dianggap berbau syariat. Seorang muslim meyakini Islam membawa kebaikan bagi kehidupan, jika regulasi tentang miras, pornografi dan semacamnya harus di-cut hanya karena terkait agama tertentu, dampak buruknya seperti free sex, kriminalitas dan berbagai penyakit masyarakat, akan kembali kepada bangsa secara keseluruhan.

Mempertanyakan konsistensi para pengusung sekularisme dan depolitisasi agama, untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik untuk meraih dukungan, tidak memakai simbol-simbol agama atau memublikasikan keshalihan untuk mendapatkan suara dalam pemilihan.

Monday, 23 June 2014

Elektabilitas Jokowi Turun Karena Pencitraan Lebay


Survei yang dilakukan Institut Survei Indonesia (ISI), elektabilitas calon presiden Prabowo Subianto mampu mencapai Jokowi dengan angka 51,18 persen. Sementara Jokuwi mendapat 48,82 persen. Apa yang menyebabkan suara Prabowo meningkat?

Direktur Institut Survei Indonesia (ISI), Haris Baginda mengungkapkan elektabilitas Prabowo mulai terlihat meningkat lantaran penampilan Prabowo dalam debat kandidat. Di dalam rentang survei yang dilakukan ISI pada 15-21 Juni, ada dua debat kandidat yang dilakukan.

"Harusnya dilihat Prabowo selalu mengakui kebenaran, kelebihan, dan kebaikan Jokowi-JK sekali pun tim suksesnya melawan itu," ujar Haris dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (23/6/2014).

Menurut Haris, hal itu mengubah persepsi responden yang digunakannya dalam survei. Sementara Jokowi-JK, katanya, tidak pernah mau mengakui kelebihan lawannya.

Tak hanya itu, Jokowi-JK, kata Haris, tampilan kesederhanaan Jokowi juga mulai berbalik menyerang gubernur DKI Jakarta non-aktif itu. Hal ini menyusul terungkapnya ke publik foto-foto Jokowi menggunakan mobil Toyota Fortuner dan pesawat jet sewaan. Padahal, ujar Haris, Jokowi pernah tampil ke publik menggunakan bajaj dan pesawat ekonomi.

"Pencitraan ini akhirnya terbongkar dan menurunkan elektabilitas Jokowi," ucapnya.

Di dalam survei ISI yang dilakukan pada 15-21 Juni 2014 itu, tingkat elektabilitas Prabowo mencapai angka 51,18 persen sementara Jokowi 48,82 persen. Di dalam survei ISI, Prabowo sebenarnya sudah bisa menyalip Jokowi sejak survei kedua dilakukan yakni pada 1-7 Juni 2014. Saat itu, Prabowo mendapat elektabilitas 50,25 persen dan Jokowi 49,75 persen.

Namun, pada survei pertama yang dilakukan ISI tanggal 18-24 Mei 2014, tingkat elektabilitas Jokuwi masih unggul dari Prabowo yakni dengan elektabilitas 52,73 persen, dan Prabowo 47,27 persen.

Sunday, 22 June 2014

Bertanggung Jawab terhadap Kesalahan


Seorang balita sedang berjalan kemudian terjatuh karena tersandung mainannnya sendiri. Si ibu pun datang dengan tergopoh-gopoh sambil memukul mainan si anak sambil mengatakan, “Oh...nakal ya jalan ini. Sudah nggak usah nangis, ini jalannya sudah dipukul sama mama.”

Ilustrasi di atas mudah dijumpai di sekitar kita. Bisa jadi itu keponakan, anak tetangga, anak kita sendiri atau bahkan masa kecil kita dulu. Sosok ibu yang penyayang, tak ingin anaknya terluka dan menangis. Ia pun mencari cara untuk menghentikan tangis anaknya tersebut. Ketemulah apa yang disangka penyebab tangis si anak yaitu mainan yang membuat anaknya terjatuh. Dipukulnya mainan tersebut dengan harapan si anak terdiam dari tangisnya.

Bunda, sadarkah bila sikap tersebut akan direkam dengan baik oleh anak kita? Hasil rekaman itu akan ditirukannya kelak bila si anak mendapati situasi yang mirip. Ketika sedang bermain bola bersama teman dan tanpa sengaja ada kaca yang pecah, maka anak akan mencari pihak yang bisa disalahkan. Hal yang kelihatannya sepele di masa kecil, terlihat bentuknya saat mereka besar. Tanpa sadar, kita mengajari anak untuk mencari kambing hitam atas kesalahan yang bisa jadi kesalahan bersama. Atau bisa juga karena kesalahannya sendiri.

Betapa sering ketika mengadakan acara dalam sebuah kepanitiaan, rapat yang seharusnya dijadikan ajang evaluasi menjadi tempat untuk menyalahkan masing-masing sie ketika terjadi kegagalan. Sie acara menyalahkan sie konsumsi karena kue kotaknya kurang. Sie konsumsi menyalahkan sie transportasi karena terlambat menjemput kue pesanan. Sie transportasi menyalahkan sie lainnya. Bila ketua panitia tidak bijak, dia pun ikut ambil bagian menyalahkan semua sie yang dianggap tidak becus bekerja. Semua mencari benar sendiri.


Inilah efek domino hasil pendidikan masa kecil yang tanpa sadar memengaruhi sikap seseorang ketika ia dewasa.

Tak heran, para pemimpin negeri ini pun saling tuding ketika mereka tertangkap basah sedang melakukan kesalahan. Jarang atau bahkan tak ada sama sekali yang dengan berani mengakui kesalahannya. Bahkan ibarat pungguk merindukan bulan berharap ada pejabat yang mau mundur karena malu dengan kesalahan yang diperbuatnya.

Bunda, kita semua ikut bertanggung jawab terhadap nasib negeri ini, bangsa ini. Harus ada perubahan dalam cara kita menyikapi permasalahan. Sebelum kita menularkannya ke anak-anak, seharusnya diri sendiri dulu yang berubah. Tidak mudah memang, tapi bisa kita usahakan.

Ketika anak terjatuh karena kurang hati-hati dalam berjalan, biarkan ia merasakan prosesnya dulu. Rasa sakit saat terjatuh, menangis dalam kesakitan itu, mencari sosok ibu yang siap menolongnya. Jangan cepat-cepat datang untuk menghiburnya apalagi menyalahkan atau memukul benda atau pihak lain. Ajari anak untuk tahu bahwa rasa sakit yang dialaminya itu akibat ia kurang berhati-hati. Katakan ini dengan suara lembut yang memberikan rasa aman. Berikan solusinya juga sehingga anak tidak larut dalam tangisnya.

“Adik jatuh, sakit ya? Tidak apa-apa. Anak hebat nangisnya tidak lama. Yuk, berdiri lagi. Sekarang, lebih berhati-hati ya jalannya.”

Kalimat penguatan semacam ini akan masuk ke dalam memori anak. Ia akan belajar mendefinisikan rasa dalam hal ini rasa sakit. Ia juga belajar konsep baru bahwa menangis boleh cuma tidak perlu lama atau bahkan berlarut-larut. Bila berjalan, ia akan berusaha berhati-hati agar tidak terjatuh lagi. Tidak ada satu pihak pun yang disalahkan dalam hal ini termasuk dirinya. Jatuh bukan kesalahan. Jatuh adalah proses pembelajaran. Dengan kalimat positif semacam ini diharapkan anak akan menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mudah menyalahkah orang lain dalam proses kehidupannya kelak.

Saturday, 21 June 2014

Bangun e-Government dalam 2 Minggu, Mungkinkah ?


Yang tidak tahu seluk-beluk IT mungkin tidak akan tahu.
Bagaimana rumitnya mendevelop sebuah software untuk skala enterprise.

Saya bukan sok pinter, tapi asal tahu saja ya, untuk pencerahan kita semua.

Secara umum untuk memulai project, ada yang namanya Project Management Framework,

yaitu :
A. Project Assesment
- Define Scope of Work
- Confirm goal and objective

B. Project Plan
- Initial Phase
- Planning Phase
- Implementation Phase

C. UAT and Project
- User Acceptance plan
- Project Checklist

D. Risk Assesment
- Critical Service
- Budget Control

Lebih detail, untuk membangun system baru ada yang namanya System Development Life

Cycle, yaitu :

1. Concept Definition
2. Concept Development
3. System Design and Prototype
4. System Development and Testing
5. System Deployment
6. System Operation

Masing-masing ada proses harus dijalankan : Initiating, Planning, Executing,

Controlling, Closing, yang masing-masing akan menghasilkan output puluhan bahkan ratusan item. Dan berbagai macam variasi konsep management proyek lainnya.

Kalau didefinisikan lebih detail lagi dalam project management, akan menghasilkan ratusan bahkan ribuan baris checklist item.

Untuk bisa membangun software skala enterprise, perlu dilibatkan berbagai jabatan IT :

1. Project Manager
2. System Analyst
3. Business Analyst
4. System Architect
5. System Administrator
6. Database Administrator
7. Security Analyst
8. Programmer
9. Web Designer

Software atau Aplikasi yang ada nama e- di depannya seperti E-Banking, E-Ticket, E-Budget, E-Governance, E-Purchasing adalah aplikasi yang berskala sangat besar atau berskala enterprise atau kadang yang memadukan berbagai macam modul jadi satu dikenal dengan nama Enterprise Resource Planning. (ERP)

Terbayang khan, membuat software rumit memerlukan waktu bertahun-tahun dari awal perencanaan sampai implementasinya
. Bisa jadi dalam satu tahun dikerjakan keroyokan sudah hebat banget.

Cuma untuk data inventory dan system control perusahaan saja, programmer terkadang perlu waktu sebulan begadang buat program coding ribuan baris sampai stress, kurus, botak, penyakitan.

Kalau ada yang sok bilang, mau lihat keuangan semua daerah di Indonesia tinggal pencet, panggil programmer 2 minggu selesai. Mustinya mikir dulu sebelum ngomong, kalau tidak punya ilmu.

Itu buat aplikasi skala besar lho, jangan disamakan dengan buat web instan atau halaman blog atau install aplikasi bajakan yang beli di pinggir jalan.Disamping itu, perlu diperhatikan juga infrastruktur jaringan internet di Indonesia. Selain dukungan server yang handal, fiber optic, lebar pita (bandwidth) internet di indonesia harus diupgrade besar-besaran jika tak ingin traffic layanan online di Indonesia lumpuh. Kita mungkin juga pernah alami tiapkali ada rekrutmen karyawan di BUMN secara online banyak server yang down kinerjanya karena traffic yang begitu tinggi.

e-KTP yang dirancang bertahun-tahun dan menghabiskan triliunan rupiah saja, hasilnya..kurang sukses, kalau tidak mau dibilang GATOT alias gagal total. Kasus tetangga kampung, e-KTPnya sudah jadi, nama benar tapi fotonya orang lain. Ada yang tanggal lahir satu keluarga sama semua. Kacau.

Jadi bertanya, siapa programmer gila yang bisa buat e-government ala Jokowi dalam 2 minggu ? Jangan-jangan itu aplikasi e-Ramikir namanya.

Maaf, walaupun saya bukan programmer tapi di bidang IT lainnya, saya tahu bagaimana susahnya jadi programmer itu. Mereka juga manusia, bukan robot. Dia bekerja dengan otak, mereka bukan kelompok orang ‪#‎ramikir‬ ‪#‎rapopo‬. Seandainyapun Jokowi ingin mengerahkan semua engineer terbaik Indonesia baik yang di dalam negeri maupun engineer yang mengais 'nasi' di luar negeri, saya rasa anggarannya pun tidak akan bisa diambil dari APBN, melainkan dengan 'merelakan urat nadi bangsa' pada asing seperti menjual BUMN ataupun 'pulau'...

Wednesday, 18 June 2014

Kampanye Massa Pendukung Jokowi-JK di Yogya Berujung Anarkis


Kampanye PDIP (Kampanye Pilpres Pendukung Pasangan Jokowi-JK -red) di daerah Yogyakarta yang dipusatkan di stadion Mandala Krida berujung rusuh di beberapa daerah,

Di Daerah Tamsis

Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia menjadi korban kebrutalan simpatisan moncong putih PDIP di depan kampus UII Jalan Taman Siswa, mereka dipukul dengan pemukul dari bambu dan kayu, juga ada yang menggunakan pentungan. Para Korban sore ini sedang di visum, ada satu yang parah kepala bocor ber Nama "AK", Ak seorang mahasiswa angkatan 2010 Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang tadi sore divisum di RS Hidayatullah Yogyakarta.

Masalah hanya sepela. Para mahasiswa yang hendak menyabrang kebetulan bertemu dengan gerombolan simpatisan moncong putih PDIP dan mereka dengan arogannya menyasak dengan mengacungkan pentungan kepada para mahasiswa yang sudah melewati setengah dari bagan jalan yang hendak disebrangi.

Mahasiswa hendak ditolong tukang parkir

Dua orang tukang parkir yang berniat menyelamatkan mahasiswa tidak luput mendapatkan pukulan dan tendangan simpatisan PDIP.

Team advokasi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia sudah mengantongi beberapa bukti dan insyaallah segera diperkarakan atas arogansi dari simpatisan PDIP pendukung Jokowi-JK.

Di Daerah Tukangan

Daerah tukangan, karna jalanan macet para simpatisan PDIP unjuk kekuatan dan memepet para pengguna jalan yang mengakibatkan beberapa warga yang pulang dari bekerja terjatuh.

Di Daerah Lempuyangan

Masih sama,Masa PDIP turun ke jalan membawa bambu dan merusak atribut kampanye dari Bakal Calon Presiden lawan "Prabowo subianto", hingga berita ini beredar lempuyangan masih mencekam,dan polisi dikerahkan untuk menjaga lokasi agar segera kondusif.

Depan SMP Bopkri

Masa PDI-P yang arogan ala preman jalanan, semasa melintasi masjid di jalan gayam sewaktu sholat ashar diperingatkan warga untuk menurunkan tensi suara kenalpot, namun tidak diindahkan, hingga ada warga yang meneriaki, Kafir itu artinya pembangkang.

Tak terima dengan teriakan tersebut wargapun dilempar batu, akhirnya warga menarik mundur untuk mengalah guna menunaikan sholat ashar, sehabis sholat warga sekitar menarik masa yang anarkis tadi ke utara perempatan gayam menjauh dari masjid dan terjadilah perang antara warga dengan masa moncong putih tepatnya di depan jalan besar arah ke SMP Bobkri.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Faried - Premium Blogger Themesf | Affiliate Network Reviews