Gempuran Israel yang menyebabkan korban sipil terutama anak-anak dan wanita Palestina telah menarik simpati masyarakat internasional. Tak ketinggalan di Indonesia, capres Prabowo menyumbang Rp 1 Milliar untuk Palestina. Sedangkan FPI langsung melakukan aksi nyata dengan mengirim relawannya untuk membantu rakyat Palestina. Sementara itu, relawan Jokowi menyumbang 'rasa keprihatinan' dengan menyalakan 1000 lilin untuk 'membantu' penderitaan bangsa Palestina.
Kerancuan Berpikir Kiai Kanjeng nya MH Ainun Najib
MH Ainun Najib, budayawan asal Yogya yang juga ayah dari vokalis grub band Letto ini acapkali menggandeng pihak gereja untuk berkolaborasi dalam 'dakwahnya'.Bersikap wala kepada non muslim, namun tak jarang ia juga mendiskreditkan kelompok muslim lain.Sebagai konsekuensi dari kerancuan 'dakwah' Emha yang tidak sejalan dan bertentangan dengan konsep al-wala’ wal-bara’ itu, maka Emha dan Kyai Kanjengnya terancam akan kena laknat dari Allah Ta’ala, sebagaimana kaum Nabi Daud dan kaum Nabi Isa. Mereka adalah kaum yang durhaka dan melampaui batas oleh karena permisif terhadap kemungkaran, dan oleh karena kegemarannya tolong-menolong (al-wala’) dengan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik seperti dalam QS al-Maidah ayat 79 – 80.
Free Download Ebook BSE
Dapatkan Ebook BSE (Buku Sekolah Elektronik) secara gratis, tanpa perlu registrasi,langsung download. Tersedia Ebook untuk tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK.
Love Story di Medan Jihad Suriah
Mahmoud al-Halabi, seorang mantan sopir isteri menteri Suriah mungkin tak menyangka jika pada akhirnya dia akan menjadi mujahid melawan kebiadaban rezim Assad. Begitu juga dengan isterinya, Nour al-Hassan yang awalnya berprofesi sebagai penata rambut di sebuah salon yang akhirnya menjadi mujahid wanita yang berani di garis terdepan. Kisah cinta mereka bersemi justru ketika mereka berada di tengah medan jihad.
Nikah dengan Cowok 'Keren', Akankah Menjamin Hidup Bahagia ?
Wanita memang punya sifat dasar mudah condong dengan kemilau dunia, sampai terkadang menutup akal sehatnya. Salah satu dalilnya yaitu mengenai mayoritas pengikut Dajjal kelak, mereka yang lemah hatinya dan mudah terpengaruh dengan kemilau dunia karena Dajjal diberi kemampuan membuat 'surga' di dunia yang sejatinya adalah neraka. Dalam memilih pasangan hidup, tak sedikit dari mereka yang berpatokan pada tampang keren semata. Benarkah hanya dengan patokan itu akan menjamin hidupnya akan bahagia ?
Pahlawan Dalam Perspektif Islam
Pahlawan adalah orang-orang yang berjuang untuk menegakkan ideologinya, untuk kemuliaan kaumnya, dan untuk keyakinannya. Dia berkorban sedemikian rupa, dengan segala kegigihannya, mengorbankan pikiran, waktu, tenaga, harta, atau bahkan mengorbankan nyawanya untuk tegaknya ideologi tersebut. Berani mengatakan yang benar sebagai benar, yang haq sebagai haq.
Sunday, 13 July 2014
Relawan Jokowi Sumbangkan Rasa Belasungkawa untuk Palestina
Gempuran Israel yang menyebabkan korban sipil terutama anak-anak dan wanita Palestina telah menarik simpati masyarakat internasional. Tak ketinggalan di Indonesia, capres Prabowo menyumbang Rp 1 Milliar untuk Palestina. Sedangkan FPI langsung melakukan aksi nyata dengan mengirim relawannya untuk membantu rakyat Palestina. Sementara itu, relawan Jokowi menyumbang 'rasa keprihatinan' dengan menyalakan 1000 lilin untuk 'membantu' penderitaan bangsa Palestina.
Friday, 11 July 2014
Real Count Bungkam Exit Poll PDIP Arab Saudi
Penghitungan Suara tadi malam selesai dilakukan di Wisma Konjen-Jeddah, untuk wilayah Arab Saudi Barat ( Garibiah ) yang diantaranya Jeddah, Abha Al Baha, Al Namas, Bisha, Jizan, Madinah, Makkah, Najran, Qundufa, Rabigh, Tabuk, Thaif dan Yanbu. Untuk 14 kota tersebut semuanya memiliki Total suara 10,983, Pasangan Prabowo-Hatta mendapat suara sebanyak 51,22% ( 5,626 suara ), sementra Pasangan Jokowi-Jk mendapat 48,78% ( 5,357 suara ).
Ada yang menarik dari perhitungan suara kali ini, masih ingatkah teman-teman dengan Exit Poll Hoax pada ( 04/07/2014 ) yang dilakukan Timses PDIP Arab Saudi, Exit Poll tersebut disebar di Media Online Nasional seperti detik.com, Berita Satu dan Tribunews, bahkan sempat di Posting diakun Facebooknya Jumhur Hidayat mantan Ketua BNP2TKI yang menyatakan bahwa Pasangan Jokowi-Jk mendapatkan suara 75% dan Prabowo-Hatta 20% untuk wilayah Arab Saudi. Namun kini Exit Poll tersebut berhasil dibungkam setelah diadakanya penghitungan suara ( Real Count ).
Muhamad Roland selaku Wakil Ketua Koalisi Merah-Putih Arab Saudi mengatakan pihaknya merasa sangat bersyukur atas hasil suara yang didapat oleh pasangan Prabowo-Hatta di Arab Saudi. Roland juga mengingatkan kepada Tim Koalisi Merah-Putih dan Pendukung Prabowo-Hatta di Indonesia agar tidak terjebak oleh penggiringan opini yang dilakukan Lembaga Survei yang memunculkan hasil Quick Count, ” Insha Allah Pak Prabowo menjadi RI 1 dan Kawal terus suara yang sudah diperoleh Prabowo-Hatta, tutur Roland “.
Thursday, 10 July 2014
Adakah Setan dalam Cermin ?
Cermin, sebuah benda yang memantulkan wajah dan perawakan serta penampilan keseluruhan seorang wanita dari atas sampai bawah. Cermin jelas sangat dibutuhkan dan diperlukan semua wanita di seluruh dunia. Wanita akan melihat dirinya di kaca, di saat itu pikirannya akan mulai menghayal ini dan itu, dan setanpun mulai membisiki si wanita dengan bisikan yang seru namun perlahan-lahan diikuti sang wanita seperti “alangkah baiknya bila pipiku merona merah seperti artis sinetron si anu..” maka dibubukanlah perona pipi pada wajahnya. Selain itu kejengkelan melihat kelopak mata yang sipit menimbulkan kenginan kuat untuk merubah kelopak matanya agar sedikit lebih lebar yang tentunya akan membuat banyak lelaki terpana.
Ketidakpuasan sang wanita dapat juga terlihat disaat melihat postur tubuhnya yang sudah langsing. Sang wanita mencoba untuk lebih langsing lagi dan rela berjam-jam menunggu antrian di sebuah klinik kelangsiangan walaupun mendapat antrian ke-38 setelah 5 jam menunggu untuk mendapatkan suntikan pelangsing. Terkadang sang suster dan dokter berkerinyit bingung, wanita langsing ini mau diapakan lagi agar tampak lebih langsing. Dengan tubuh yang begitu langsing, apa lagi yang harus dilangsingkan, seketika itu pun kepuasan serta kepercayaan diri terpancar di wajah sang wanita.
Keesokan harinya ketika dia bercermin lagi, dia melihat bahwa hidungnya sangat besar. Ketika ada questioner dari sebuah majalah wanita yang menanyakan bentuk wajahmu yang manakah yang paling kamu sesali? kustioner bodoh yang menghina ciptaan Allah, padahal sudah jelas ada dalam Al-Quran,
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At Tiin [95] : 4)
maka ketika mengisi kuestioner bodoh tersebut sang wanita melingkari huruf C yaitu hidung. Keinginan yang kuat bagi sang wanita untuk membuat hidungnya lebih mancung, lebih tirus, lebih tinggi akhirnya membuat sang wanita mencari uang sebanyak-banyaknya. Ketika uang sudah terkumpul, dengan berhati-hati maupun tidak berhati-hati, bedah operasi plastik pun dilakukan. Dengan memiliki hidung tinggi menjulang yang menurut dokter tidak boleh tersenggol benda tajam selama 6 bulan, dikarenakan akan berakibat hidung menjadi bengkok seperti burung betet, membuat sang wanita merasa ada yang lain dalam dirinya.
Dan pulang dari operasi hidung, berkali kali sang wanita melihat cermin dan merasa puas akan hidungnya, namun ketika melihat lagi ke bawah tubuhnya dia terpegun melihat payudaranya yang kecil dan nayris rata, tidak membusung dan tidak menantang. Cermin pun sekali lagi menjadi alat setan untuk membisikkan sang wanita agar mengoperasi bagian yang dibutuhkan, setelah sukses dengan hidung mancungnya.
“Sakit, sakit sekali, sakitnya sampai 2 hari, lebih sakit daripada melahirkan, ada juga yang bilang, lebih sakit daripada sakaratul maut,” demikian ungkapan-ungkapan beberapa orang artis cantik yang mengaku dioperasi payudaranya agar lebih menonjol dan menantang,. Menurutnya bagian tubuh adalah aset dimana harus dijaga, bahkan dioperasi bila kurang puas bentuknya, karena akan menjadikan dirinya lebih percaya diri. Kepuasan terlihat diwajahnya walau kesakitan begitu mendera tubuhnya akibat operasi payudara yang dilakukan dengan harga yang luar biasa mahal dan hasil yang sesuai selera. Sakit luar biasa akan ditahannya atas nama penampilan, dan cermin pun menghadirkan rasa puas karena reka bentuk yang diinginkan atas bujukan setan yang hinggap dalam pikirannya, semua dilakukan hanya karena ingin tampil cantik sesuai dengan selera syahwat manusia.
Terapi bengkuang dari perut sampai ujung kaki untuk membuat bentuk tubuh wanita menjadi langsing, dilakukan dengan susah payah, sehingga sulit untuk sholat. Akhirnya ibadah sholat ditinggalkan dengan pemikiran, nanti setelah tubuhku terbentuk aku akan sholat lagi, dan itu dilakukan oleh wanita yang ingin memiliki penampilan lebih sempurna. Lagi-lagi cermin menjadi acuan, dan bisikan-bisikan setan yang mempengaruhi pikiran wanita dan bekerjasama dengan emosinya yang mudah berubah membuat wanita kerap tidak puas dengan dirinya, dan ingin merubah sana dan merubah sini.
Masya Allah, tentulah Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan semua bentuk tubuh dan wajah manusia bila diurai satu-persatu pastilah ada kekurangannya namun proporsional tubuh dan wajah manusia bila dirombak-rombak sesuai dengan keinginan dan pikiran wanita berdasarkan hasil bisikan setan. Ketika sang wanita melihat dirinya di kaca, wanita berani merubah keputusan dan ketentuan Allah atas dirinya, maka ketiak wanita mendengar ceramah para ustad bahwa mengoperasi plastik sifatnya adalah haram, maka beramai-ramai wanita menuduh sang ustad ekstrim, dan beramai-ramai wanita memberi hujjah bahwa Allah menyukai keindahan, dan islam itu indah.
Maka, saran saya, sebagai wanita janganlah terlalu banyak memakai kaca untuk bercermin, karena disitulah anda melihat diri anda dan ketika itulah setan membisikkan diri anda dengan mengatakan jilbab besar buruk membuat anada nampak gemuk, pakailah jilbab yang cerah berwarna dan pendek agar bahu terlihat ramping. Hal lain lagi dengan sedikit menyesali diri, mengapa kulitku hitam sehingga memakai baju warna hijau yang cantik ini mebuat kulitku dan penampilanku semakin buruk. Nah ketika itulah semakin lama berkaca, maka semakin lama kita menyesali diri dan percayalah bila di ikuti, ada saja yang kurang dari tubuh dan wajah kita yang berkaitan. Terbesit penyesalan dalam diri kita terhadap apa yang Allah ciptakan pada diri kita, dan juga terbesit pikiran tidak percaya diri terhadap penampilan kita yang syari’ie dan setan pun terus berbisik dan terus berbisik “minnal jinnati wannas” hati hati dengan bisikan setan. Jangan berlama-lama di depan cermin dan bersyukurlah pada Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan kita dengan sebaik-baik bentuk.
Sebaik-baik perhiasan (perhiasan: sesuatu yang indah untuk dilihat dan mahal harganya) adalah wanita solihah, yang terlihat dari ibadah dan akhlaknya bukan, tidak akan nampak dari cermin di manapun sang wanita berada.
Tuesday, 8 July 2014
Bolehkah Kita Fanatis pada Golongan ?
Di masa sekarang ini, banyak dijumpai beraneka jamaah pengajian dan kelompok kajian agama. Mereka semua mengaku yang paling benar, sesuai dengan ajaran Islam dan berasa akan ahlu sunnah wal jama’ah. Ketika masing-masing mereka menganggap bahwa merekalah yang terbaik dan terbenar, tidak mau menerima kebenaran kelompok lain, menutup mata dari kesalahan kelompoknya sen diri dan menyangka bahwa merekalah yang paling berhak menerangkan berbagai perkara agama, akhirnya jadilah umat ini terfirqoh-firqoh. Lalu tanpa mereka sadari, perilaku dan perbuatan mereka itu telah menyeret mereka kepada kerusakan, perselisihan dan perpecahan. Dalam anggapan mereka, merekalah gudangnya kebenaran sedangkan selain mereka adalah gudang kekeliruan. Akhirnya dari perilaku seperti itu lahirlah fanatisme kelompok (ashobiyyah).
Padahal sikap fanatisme kelompok itu sangat diharamkan oleh Islam, lantaran perbuatan itu merupakan kebiasaan orang kafir/ musyrik dan dapat menimbulkan perselisihan, perpecahan dan permusuhan lalu pada akhirnya akan melemahkan kekuatan kaum muslimin. Sebagaimana dalil-dalil berikut ini,
Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (kaum musyrikin), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [QS. ar-Rum/30: 31-32].
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, yang akan menyebabkan kalian lemah dan hilangnya kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. Al-Anfal/ 8: 46].
Dari Jundub bin Abdullah al-Bajaliy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera ummiyyah (kesesatan) yang disebabkan ia mengajak kepada ashobiyah atau dalam rangka menolong ashobiyah, maka matinya adalah mati jahiliyah”. [HR Muslim: 1850, an-Nasa’iy: VII/ 123 dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]
Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Barangsiapa yang menolong kaumnya dengan alasan yang tidak benar maka ia seperti seekor unta yang terjatuh (ke dalam lobang) lalu ia diangkat dengan ekornya”. [Atsar riwayat Abu Dawud: 5117, 5118. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jamaah lalu ia mati maka matinya tersebut adalah mati jahiliyah. Barangsiapa yang berperang di bawah bendera ummiyyah yang ia marah karena membela golongan (fanatisme golongan) atau mengajak kepada golongan atau menolong golongan lalu ia terbunuh maka matinya tersebut adalah mati jahiliyah”… Dan seterusnya hadits. [HR Muslim: 1848, an-Nasa’iy: VII/ 123, Ibnu Majah: 3948 dan Ahmad: II/ 306, 488. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]
Dari Jabir radliyallahu anhuma berkata, kami pernah berada dalam suatu peperangan (yaitu Bani al-Mushthaliq), lalu seseorang dari golongan Muhajirin melukai seorang dari golongan Anshor. Berkata orang Anshor, “Wahai orang-orang Anshor”. Dan berkata golongan Muhajirin, “Wahai orang-orang Muhajirin”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendengar perkataan itu lalu bersabda, “Apakah dengan seruan-seruan Jahiliyyah (kalian menyeru)?, (padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian)”. Mereka berkata, “Wahai Rosulullah, seorang dari golongan Muhajirin melukai seseorang dari golongan Anshor”. Lalu Beliau bersabda, “Tinggalkanlah ia, karena sesungguhnya ia busuk baunya’. [HR al-Bukhoriy: 4905, Muslim: 2584 dan at-Turmudziy: 3315. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menegur para shahabat Muhajirin dan Anshor radliyallahu anhum karena mereka meneriakkan seruan-seruan jahiliyah. Yaitu ucapan ‘Ya lal Anshor’ dan ‘Ya lal Muhajirin’, yang merupakan kalimat pengagungan bagi kaum atau golongan mereka masing-masing. Jika dua kelompok paling mulia ini saja dilarang untuk saling membanggakan kelompoknya masing-masing maka bagaimana dengan kelompok atau golongan yang lainnya. Rosulullah memerintahkan kedua kelompok mulia itu untuk meninggalkan budaya tersebut karena termasuk kebiasaan jahiliyah dan Beliau menyebutnya dengan sesuatu yang baunya busuk.
Jika dalam suatu tempat tercium bau busuk yang sangat menyengat, maka orang-orang yang berada disekitarnya niscaya akan pergi dan membubarkan diri meninggalkan tempat tersebut tanpa diperintah dan dikomando oleh orang lain. Namun dengan seruan kebanggaan jahiliyah, masih banyak di antara umat manusia bahkan umat Islam yang saling menyeru dan meneriakkannya dengan lantang tanpa perasaan bersalah. Terkadang orang-orang itu merasa sudah berbuat yang sepatutnya dan benar tindakan mereka.
Padahal sudah berapa banyak kehancuran yang menimpa umat manusia, yang disebabkan perang antar suku, ras dan golongan di berbagai tempat di belahan dunia dan bahkan di Indonesia ini. Banyak manusia terbunuh, rumah hancur porak poranda, gedung-gedung untuk layanan masyarakat dan kendaraan-kendaraan pribadi atau pemerintah yang ikut jadi korban. Hal itu karena masalah ashobiyah atau fanatik kesukuan yang sangat kental di sisi manusia.
Begitupun umat Islam yang kebanyakan mereka sangat fanatik dengan madzhab, partai, kelompok pengajian ataupun para ustadz mereka. Banyak di antara mereka yang terkadang lebih fanatik kepada madzhab dan golongannya daripada fanatiknya mereka kepada Islam. Mereka lebih fanatik kepada ustadz mereka daripada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Subhanallah. [5]
Padahal jika ditanyakan kepada mereka, ”Dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berpegang kepada madzhab apa?”. Dan begitu pula para Shahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Usamah bin Zaid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan selain mereka radliyallahu anhum, apakah madzhab yang mereka anut?. Niscaya mereka tidak akan pernah mendapatkan satu dalilpun di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih tentang hal itu. Mereka hanya akan jumpai dalil-dalil itu dari ucapan para ustadz mereka untuk membela pemahaman mereka yang rapuh lagi goyah.
Bahkan para Imam yang empat itupun dahulu mereka tidak pernah saling bermadzhab kepada seseorang di antara mereka dan tidak ada satupun ucapan mereka yang mengajak umat Islam dan pengikutnya untuk bermadzhab kepada mereka. Dan yang ada malah kebalikannya, yaitu mengajak mereka untuk selalu berpijak dan berpihak kepada sumber pengajaran Islam yaitu Alqur’an dan hadits-hadits yang shahih.
Demikianlah larangan bagi umat Islam, dari dakwah atau menyeru kepada ashobiyah (fanatik golongan), bangga dengan ashobiyah, marah karena membela ashobiyah dan menolong lantaran ashobiyah. Dan mereka juga dilarang untuk masuk ke dalam madzhab atau golongan dan fanatik terhadapnya, yang akan menyebabkan umat Islam tercerai berai, lemah dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi musuh. Lalu jika mereka mati atau terbunuh di bawah bendera kesesatan tersebut maka matinya mereka itu adalah mati jahiliyah, yaitu mati diluar manhaj Islam.
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhohullah, [6] “al-Firqoh an-Najiyah (golongan yang selamat) itu tidak pernah ta’ashshub atau fanatik (kepada kelompok manapun) kecuali kepada firman Allah Subhanahu wa ta’ala dan sabda Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam yang ma’shum, yang tiada berkata-kata dari hawa nafsunya. Adapun manusia selainnya kendatipun tinggi derajatnya tentulah ia berdosa, karena sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam nash berikut ini,
Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Semua anak Adam itu berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat”. [HR Ahmad: III/ 198, at-Turmudziy: 2499, Ibnu Majah: 4251, ad-Darimiy: II/ 303 dan al-Hakim: 7691. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]
Jika demikian, pantaskah manusia selain Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk diikuti dan diteladani segala perkataan dan perbuatannya. Padahal telah nyata dalilnya yang jelas mengenai ketidaksuciannya mereka dari dosa-dosa. Tegasnya, andaikan ada seseorang selain Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata. Maka tidak akan terjamin mengenai benar atau salahnya, pun demikian perbuatannya. Benar dan salahnya tingkah laku dan ucapan seseorang itu mesti diukur dengan alqur’an dan sunnah. Jika sesuai dengan keduanya maka kebenaran itu landasan berpijaknya dan jika berselisih, batillah segala tingkah laku dan perkataannya.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, “aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda, “Catatlah, demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]
Jika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berbicara dan mengerjakan sesuatu pastilah suatu kebenaran, karena Beliau tidak pernah berbicara dan berbuat sesuatu itu dari dasar hawa nafsunya. Dan semua yang diucapkan ataupun yang dikerjakannya itu berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepadanya (lihat QS. An-Najm/ 54: 3-4). Sehingga pantaslah jika kita sebagai umatnya untuk ashobiyah atau fanatik kepadanya. Namun selain Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, apakah dijamin setiap perkataan dan perbuatannya itu adalah kebenaran. Apalagi jika ia jauh dari bimbingan alqur’an dan sunnah serta pemahaman para ulama yang meniti jalan bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum?.
Oleh karena itulah, para Imam yang empat rahimahumullah telah mewasiatkan kaum muslimin supaya tidak taklid dan fanatik kepada mereka, namun meletakkan ittiba’ dan fanatik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (Alqur’an) dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (hadits-haditsnya yang shahih), di dalam beberapa ucapan mereka berikut ini,
A. al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,
1). Apabila aku berkata satu perkataan yang menyelisihi kitabullah (Alqur’an) dan khabar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (hadits), maka tinggalkanlah perkataanku.[9]
2). Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami telah mengambilnya. [10]
3). Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku. [11]
4). Celakalah engkau wahai Ya’kub (yaitu Abu Yusuf). Janganlah engkau selalu mencatat semua yang kamu dengar dariku. Karena aku pada hari ini berpendapat dengan suatu pendapat namun aku akan meninggalkannya esok. Atau aku esoknya berpendapat suatu pendapat lalu lusanya aku meninggalkannya pula. [12] 5). Apabila hadits itu shahih maka ia adalah madzhab (pendirian)ku. (Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 46).
B. al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,
1). Aku ini hanyalah manusia, bisa salah dan bisa juga benar. Oleh sebab itu perhatikanlah pendapatku itu dengan seksama. Maka semua yang sesuai dengan alqur’an dan sunnah maka ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Alqur’an dan sunnah maka tinggalkanlah. [13]
2). Tidak ada seseorang sesudah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. [14]
C. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
1). Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan tinggalkan apa yang telah aku katakan. Di dalam satu riwayat: Maka ikutilah sunnah tersebut dan janganlah kalian berpaling kepada perkataan seseorang. [15]
2). Kaum muslimin telah berijmak bahwasanya orang yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran pendapat seseorang. [16]
3). Setiap persoalan yang telah shahih hadits tentangnya dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menurut ahli naql (ahli hadits) yang berselisih dengan apa yang kukatakan. Maka aku merujuk kepadanya di masa hidupku dan setelah kematianku. [17]
4). Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan telah shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang menyelisihinya maka ketahuilah bahwasanya telah hilang akalku. [18]
5). Semua yang kukatakan sedangkan yang shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyelisihi ucapanku maka hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah yang lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku. [19]
6). Semua hadits dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah merupakan ucapanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku. [20]
D. al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,
1). Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Awza’iy dan juga ats-Tsauriy. Tetapi ambillah dari arah mana mereka mengambil.[21]
2). Pendapat al-Awza’iy, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah, semuanya itu hanyalah pendapat. Di sisiku semuanya itu sama. Hujjah itu hanyalah ada pada atsar.[22]
3). Berkata Abu Dawud, Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ”Apakah al-Awza’iy itu pengikut Imam Malik?”. Ia menjawab, ”Janganlah engkau taklid kepada seseorang dari mereka di dalam agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka ambillah”. [23]
4).Sebahagian dari minimnya pemahaman seseorang terhadap agamanya adalah ia taklid kepada orang-orang di dalam agamanya. [24]
5). Barangsiapa yang menolak hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka berarti ia berada di tepi jurang kebinasaan. [25]
Tiadakah hikmah dan faidah sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ucapan para imam tersebut bagi segenap umat Islam, khususnya para dai?. Sehingga masih terlihat gejala dan penyakit fanatik golongan ini pada mereka. Karena gejala dan penyakit fanatik golongan ini biasanya timbul dari sikap para dai yang menyeru dan mengajak umat ini kepada kefanatikan suatu golongan tertentu yang mereka anut. Belumkah mereka membaca nash-nash di atas ataukah mereka berpura-pura tidak tahu?. Gejala dan penyakit ashobiyah (fanatik golongan) ini biasanya dilahirkan pula oleh sikap kaum muslimin yang berlebih-lebihan terhadap ustadz, guru ataupun para imam mereka. Sehingga mereka berasumsi bahwa hanya ustadz dan imam mereka sajalah yang benar dan berhak untuk menyampaikan kebenaran. Sedangkan orang selainnya adalah tidak benar dan tidak pantas untuk menyampaikan kebenaran dan jikapun benar itupun harus seidzin dan sepengetahuan ustadz dan imam mereka, walaupun orang yang menyampaikannya itu benar-benar menyampaikan kebenaran dari alqur’an dan hadits yang shahih. Iblis la’natullah alaihi saja yang telah jelas kesesatannya mengatakan, ”Aku adalah termasuk orang-orang yang memberikan nasihat” (QS. al-A’raf/ 7: 21), ketika menggelincirkan nabi Adam alaihi as-Salam dan istrinya dari surga. Apalagi manusia yang merasa benar dan tidak mengetahui kesesatannya tentu dengan penuh keyakinan juga akan mengatakan, ”Aku adalah termasuk orang-orang yang memberikan nasihat dan yang menyampaikan kebenaran”. Takkan ada orang yang tahu akan aib dirinya sendiri jika tidak mengaca kepada cermin. Pun demikian tiada orang yang akan tahu akan kesalahan dan kesesatan dirinya jika ia tidak mau mengaca kepada kitabullah dan sunah Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.
Fanatik atau ashobiyah golongan ini jika dibiarkan mengendap di dalam sanubari seseorang dari kelompok tersebut, maka sikap ini akan menimbulkan kesombongan dan kebanggan kepada kelompoknya tersebut. Dan tak aneh jika ada di antara mereka yang marah sebab membela kelompoknya lantaran ashobiyah, rela mati sebab mempertahankan ashobiyah dan ia akan berkata dengan pebuh kebanggaan kepada selainnya, ” ana khoirum minka” (aku lebih baik darimu) atau ”nahnu khoirum minkum” (kami lebih baik dari kalian). Tidakkah perkataannya itu sama dengan perkataan Iblis la’natullah alaihi ketika ia berkata, “ana khoirum minhu” (aku lebih baik darinya) (QS. Shaad/ 38: 76 dan QS. al-A’raf/ 7: 12 ). Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarang seseorang hamba untuk mengatakan bahwa dirinya itulah yang terbaik, yang terpandai dan menganggap dirinya suci atau bersih dari kesalahan-kesalahan. Yakni firman-Nya, ”dan janganlah kalian menganggap diri kalian suci.” (QS. an-Najm/ 53: 32).
Dari Umar bin al-Khoththob radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Islam itu akan unggul sehingga para pedagang akan berselisih di lautan, dan sehingga akan ada kuda yang berbicara pada jalan Allah. Kemudian akan muncul suatu kaum yang membaca alqur’an seraya berkata, “Siapakah orang yang paling pandai membaca (alqur’an) dari kami? Siapakah yang paling berilmu dari kami? Siapakah yang lebih mengerti hukum dari kami?”. Kemudian beliau bersabda kepada para shahabatnya, “Apakah pada mereka itu ada kebaikan?”. Mereka menjawab, “Allah dan rosul-Nya-lah lebih mengetahui. Beliau bersabda, “Mereka itu adalah dari golongan kalian dari umat ini dan mereka itu adalah bahan bakarnya neraka”. [HR ath-Thabraniy didalam al-Awsath dan al-Bazzar dengan sanad tiada cacat dengannya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [26]
Masihkah diragukan lagi berita yang telah dibawa oleh utusan Allah ini, padahal berita tersebut adalah merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian yang akan berlaku dan terjadi di dunia ini. Bahwa akan akan ada di antara umat Islam ini yang membaca Alqur’an hanya untuk kebanggaan dan kesombongan belaka. Sehingga ia merasa bahwa dirinyalah yang paling pandai di dalam membaca Alqur’an, paling berilmu dan paling mengerti tentang hukum dari selainnya, sedangkan ia adalah merupakan bahan bakarnya neraka Jahannam. Ma’adzallah.
Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Benar-benar akan tampak jelas keimanan itu, sehingga kekufuran akan dikembalikan ke tempat-tempatnya. Dan sungguh-sungguh akan diperbincangkan lautan itu dengan Islam. Dan benar-benar akan datang suatu masa atas manusia, yang pada masa tersebut mereka akan mempelajari alqur’an, mereka mempelajari dan membacanya, kemudian mereka akan berkata, ”Sungguh-sungguh kami telah membaca dan mengetahui, maka siapakah orang yang lebih baik dari kami? Maka apakah pada mereka itu ada kebaikan?”. Mereka bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “mereka itu adalah termasuk kalian dan mereka itu adalah bahan bakarnya api neraka”. [HR al-Imam ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanad hadits ini adalah hasan .
Dengan nash hadits ini belumkah cukup bagi mereka untuk menghentikan diri mereka dari mengagul-agulkan dan mengagung-agungkan diri sendiri dan bahkan menganggap bahwa hanya dirinyalah yang paling pandai dan paling benar. Padahal sebagaimana telah dijelaskan bahwa ukuran benar dan salah serta baik dan buruknya seseorang itu bukan di ukur dari penilaian manusia secara mayoritas. Tetapi yang menjadi barometer penentu bagi seseorang itu apakah berpijak kepada kebenaran ataukah kepada kebatilan dan apakah ia orang baik ataukah seorang yang buruk, itu adalah alqur’an dan sunnah yang telah tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Jika ia sesuai dengan keduanya, maka kepada kebenaran ia berpijak dan ia adalah orang yang shalih. Tetapi apabila ia menyelisihi keduanya maka kepada kebatilanlah ia berpihak dan ia adalah seorang yang thalih (buruk).
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhohullah pernah ditanya, “Apa hukum bagi seseorang yang mencintai seorang ulama atau da’i, hingga ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin seorang pun membantahnya, dan aku mengambil perkataannya meskipun ia menyelisihi dalil, karena syaikh tersebut lebih mengetahui dalil daripada kita’ ?”.
Beliau hafizhohullah menjawab, “Sikap ini merupakan kefanatikan (ta’ashub) yang dibenci lagi tercela, tidak diperbolehkan.
Kita mencintai ulama – walillahil-hamd – , dan mencintai da’i yang menyeru di jalan Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi jika salah seorang di antara mereka terjatuh dalam kesalahan dalam satu permasalahan, maka kita menjelaskan kebenaran dalam permasalahan ini dengan dalil. Hal itu sama sekali tidaklah mengurangi kecintaan kita pada orang yang dibantah, dan tidak pula mengurangi kedudukannya.
Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang pun dari kita kecuali orang yang membantah atau yang dibantah, kecuali pemilik kubur ini” – yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
“Apabila kita membantah sebagian ulama dan sebagian fudlala’ tidaklah bermakna kita membencinya atau merendahkannya. Kita hanyalah menjelaskan kebenaran. Oleh karenanya sebagian ulama berkata ketika sebagian rekannya terjatuh dalam kesalahan, ‘Fulan adalah orang yang kami cintai, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripadanya’. Inilah jalan yang benar.
Janganlah kalian memahami bahwa bantahan terhadap sebagian ulama dalam permasalahan yang mereka jatuh dalam kekeliruan bermakna perendahan atau kebencian. Bahkan para ulama senantiasa memberikan bantahan sebagian terhadap sebagian yang lain, dalam keadaan mereka saling bersaudara dan mencintai.
Tidak boleh bagi kita mengambil semua yang diucapkan seseorang secara total, baik benar ataupun salah, karena ini merupakan sikap fanatik (ta’ashub).
“Yang diambil semua perkataannya tanpa ditinggalkan sedikitpun adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, karena beliau orang yang menyampaikan (risalah) dari Rabbnya, tidak berkata dengan hawa nafsu. Adapun orang selain beliau Shallallahu alaihi wa sallam, bisa benar dan bisa juga salah, meskipun ia adalah seutama-utama manusia. Mereka (para ulama) adalah para mujtahid yang bisa benar dan bisa salah.
Tidak ada seorang pun yang ma’shum dari kesalahan, kecuali Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Wajib bagi kita untuk mengetahui permasalahan ini. Kita tidak membicarakan kesalahan dikarenakan kecintaan terhadap seseorang. Namun wajib bagi kita menjelaskan kesalahan tersebut.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ((“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya, “Untuk siapa ?”. Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rosul-Nya, para imam kaum muslimin, dan kaum muslimin pada umumnya”)).
Menjelaskan kesalahan termasuk nasihat bagi semua. Adapun menyembunyikannya, maka itu menyelisihi nasihat tersebut di atas”. [Selesai perkataan asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan rahimahullah]. [27]
Singkatnya, seorang dai itu hanyalah berkewajiban mengajak umat Islam ini agar mereka beribadah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata untuk mendapatkan ampunan dan keridloan-Nya, dengan cara mengikuti dan menteladani petunjuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melalui dua nara sumber umat Islam yaitu Alqur’an dan hadits-hadits shahih. Di sisi lain, iapun berkewajiban membongkar dan memerangi praktek-praktek bid’ah dan ashobiyah atau fanatik golongan yang terlarang menurut syariat. Lalu menerangkan sejelas-jelasnya kepada umat Islam mengenai bahaya dan akibatnya bagi orang-orang yang mengerjakannya dengan cara mengungkapkan illat (cacat)nya hadits-hadits lemah, palsu atau yang tidak ada asalnya yang dijadikan sandaran amalan orang-orang yang mengerjakannya, dan mengenai hal ini mesti merujuk kepada para ahli hadits. Atau meletakkan kembali kedudukan dari hadits-hadits shahih yang disalah-artikan atau diselewengkan dari pemahaman yang sebenarnya oleh sebahagian dari mereka untuk kepentingan pribadi atau golongannya. Hal tersebut biasanya disebabkan karena mereka lebih mendahulukan dan mengutamakan pendapatnya sendiri dan juga para pendahulu mereka yang sepaham, dengan menomorduakan bahkan meninggalkan penjelasan para ulama salafus shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in yang mereka itu telah diabadikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits terdahulu sebagai tiga generasi yang terbaik dari umat ini.
Tindakan lain yang mesti dilakukan oleh seorang dai adalah mengungkapkan dan memunculkan kembali hadits-hadits shahih yang disembunyikan dan dikubur rapat-rapat oleh mereka atau mungkin karena mereka memang tidak tahu dan buta terhadap hadits-hadits shahih tersebut dan mereka tidak mau tahu untuk mempelajarinya, sehingga sering dijumpai pada kebanyakan umat Islam ini bahkan para ustadz dan ustadzahnya yang tidak memahami arti dari hadits shahih, hasan, dla’if, maudlu dan munkar. Juga mereka tidak mengerti tentang pengertian bid’ah, ashobiyah, syirik, tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma dan sifat, nifak, hijrah dan lain sebagainya secara jelas dan benar. Maka terjadilah ketentuan Allah Azza wa Jalla bahwa Islam itu akan kembali asing sebagaimana telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa riwayat hadits berikut ini,
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Islam itu awalnya adalah asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing”. [HR Muslim: 145 dan 146 dari Ibnu Umar, Ahmad: I/ 398 dari Ibnu Mas’ud, at-Turmudziy: 2629 dari Ibnu Mas’ud, 2630 dari Auf, Ibnu Majah: 3986 dari Abu Hurairah, 3987 dari Anas, 3988 dari dari Ibnu Mas’ud dan ad-Darimiy: II/ 311-312 dari Ibnu Mas’ud. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [28]
Di dalam satu riwayat, Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang shalih ditengah-tengah rusaknya manusia”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini dikeluarkan oleh Abu Amr ad-Daniy dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih]. [29]
Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah, “Kaum mukminin itu minoritas di antara manusia, para ulama itu juga minoritas di antara kaum mukminin dan mereka juga minoritas di antara para ulama. Maka dari sebab itu, waspadalah terhadap tipuan ini yang telah menipu kaum bodoh. Karena mereka mengatakan, seandainya mereka di atas kebenaran maka tidak mungkin mereka itu menjadi kelompok yang tersedikit di antara manusia”, sedangkan manusia menyelisihi mereka.[30]
Dari sebab itu, wahai saudara-saudaraku tercinta marilah kita mempelajari dan mengenal Islam yang telah menjadi agama kita dengan benar secara berkesinambungan. Dengan berpijak kepada alqur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih melalui pemahaman para ulama salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan Atba’ at-Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka). Jauhilah sifat dan sikap fanatik (ashobiyah) dan taklid kepada seseorang ataupun kelompok manapun karena hal tersebut akan memicu kepada perselisihan, pertikaian dan permusuhan di antara kita. Maka rugilah kita di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.
[1] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3835, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6442 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 433.
[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 4270, 4271, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6575 dan Misykah al-Mashobih: 4904.
[3] Mukhtashor Shahih Muslim: 1232, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3834, Shahih Sunan Ibni Majah: 3190, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6227, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 983 dan Iqtidlo’ ash-Shirath al-Mustaqim halaman 74.
[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 1811 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 2641.
[5] Lihat http://muslim.or.id/manhaj/wajibkah-kita-bermadzhab.html
[6] Majmu’ah ar-Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyyah halaman 159.
[7] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2029, Shahih Sunan Ibni Majah: 3428, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4515 dan Misykah al-Mashobih: 2341.
[8] Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532.
[9] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam oleh asy-Syaikh al-Albaniy halaman 48, Fat-h al-Majid halaman 468 dan Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyah oleh asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu halaman 35.
[10] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 46 dan ar-Rosa’il as-Salafiyyah oleh al-Imam asy-Syaukaniy halaman 207.
[11] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 47.
[12] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 47.
[13] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 48, Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyah halaman 135 dan ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 208, 215.
[14] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 49.
[15] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 26, ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 216, Diwan al-Imam asy-Syafi’iy halaman 57, 64, Mukhtashor ash-Showa’iq al-Mursalah oleh al-Allamah Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah tahqiq Sayyid Ibrahim halaman 519, Fat-h al-Majid halaman 468 dan Taysir al-Aziz al-Hamid halaman 487.
[16] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 50.
[17]Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 51-52, Mukhtashor ash-Showa’iq al-Mursalah halaman 519, dan ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 216.
[18] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 52 dan Diwan al-Imam asy-Syafi’iy halaman 64.
[19] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 52 dan ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 216-217.
[20] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 52 dan Diwan al-Imam asy-Syafi’iy halaman 63.
[21] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 53, ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 220 dan I’lam al-Muwaqqi’in: II/ 201.
[22] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 53.
[23] Ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 219-220 dan I’lam al-Muwaqqi’in: II/ 201.
[24] Ar-Rosa’il as-Salafiyyah halaman 220, Majmu’ at-Tauhid halaman 188, I’lam al-Muwaqqi’in: II/ 201 dan Mukhtashor Jami’ Bayan al-Ilmi halaman 116.
[25] Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 53.
[26] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 131 dan al-Kaba’ir oleh asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy halaman 65.
[27] Dinukil dari kitab al-Ajwibat al-Mufidah ‘an As’ilat al-Manahij al-Jadidah min Ijabat Ma’aliy Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 163-164, Dar al-Minhaj, Cet. 3/1424 H, dengan catatan kaki yang diberikan oleh Jamal bin Furaihan Al-Haritsiy – 14041434/24022013. Lihat http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/02/fanatik-pada-ustadz-atau-ulama.html, dengan dibuang tulisan bahasa Arabnya.
[28] Mukhtashor Shahih Muslim: 72, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2120, Shahih Sunan Ibni Majah: 3221, 3222, 3223, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1580, 1581, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1273 dan Misykah al-Mashobih: 159, 170.
[29] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1273.
[30] Miftah Dar as-Sa’adah halaman 176.
7 Kebodohan Prabowo
KEBODOHAN PRABOWO:
1. BODOH karena diam saja saat dihina & difitnah oleh jendral2 tua.
2. BODOH, mendirikan asrama untuk pelatihan nelayan, peternak dan petani tapi tdk minta diekspos oleh media.
3. BODOH, membeli bisnis perusahaan kertas raksasa namun pailit yάπĝ berpotensi kerugian hingga 1 Trilyun hanya agar kerugian tdk ditanggung negara. dan apabila tidak dibeli, perusahaan tersebut akan di ambil Amerika untuk kepentingan strategisnya.
4. BODOH karena memiliki panti asuhan tapi hanya kau biarkan fotomu terpampang di tembok usang kampung sekitar, bukannya dimedia2 ternama.
5. BODOH, memberikan kuasa hukum yάπĝ hebat demi TKW Yάπĝ akan dipenggal kepalanya padahal negara diam saja.
6. BODOH karena diam saja saat no.2 menyatakan rencana mereka utk mendukung Palestina,sementara kau bbrpa tahun lalu sudah memberikan bantuan dana untuk Palestina tanpa diekspos.Kalau dubes Palestina tidak ngomong, sampai hari ini kami
pasti tdk tahu.
7. BODOH karena tidak memblow-up keberhasilanmu membawa Kopassus menjadi pasukan elit yg diakui dunia menduduki posisi ke-3 (versi Discovery Channel Military edisi 2008). Pasukan elit Amerika saja masih di bawah Kopassus. Bukankah semua itu bisa menaikkan citramu? Tapi kenapa tdk kau lakukan itu? Bukankah itu bagian dari prestasi sosialmu? Tapi kenapa kau biarkan menguap begitu saja?
Mungkin ini alasan Gus Dur menyatakan "Orang yang paling ikhlas untuk rakyat Indonesia: Prabowo.
Thursday, 3 July 2014
Prabowo: Jika Jadi Presiden, Saya Pasti Bantu Jokowi Bangun DKI
![]() |
| Aksi Prabowo diatas panggung konser Maher Zein |
Sepekan sebelum Pilpres, Prabowo Subianto berkicau tentang rencana besarnya membangun Indonesia. Jika ia terpilih jadi presiden nanti ia akan merangkul Jokowi.
"Jika saya terpilih menjadi presiden, bantuan apa yang saudara Joko butuhkan sebagai Gubernur untuk membangun Ibukota pasti saya berikan," kata Prabowo lewat twitter, Kamis (3/7/2014).
Menurut Prabowo, birokrasi harus terdiri dari the best and the brightest. Presiden tidak kerja sendiri.
"Harus dibantu Gubernur, Walikota, Bupati terbaik. Karena itu, saya gunakan partai politik saya untuk menseleksi dan mendorong orang-orang baik untuk menjadi Gubernur, Walikota, dan Bupati," kata Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini.
Prabowo juga berkomitmen membangun kabinet terbaik. Prabowo akan mengambil anak terbaik bangsa di kabinetnya.
"Saya akan undang putera dan puteri terbaik untuk perkuat kabinet. Tidak jadi soal apakah mereka anggota partai koalisi atau non-partai," kata mantan Danjen Kopassus ini.
Bagi Prabowo, konsep kepemimpinan yang terbaik bagi bangsa Indonesia adalah kepemimpinan kolektif yang kolegial. Selain itu kepemimpinan yang didambakannya adalah lintas partai, suku, dan agama.
"Inspirasi saya adalah cerita Abraham Lincoln dalam bekerja sama dengan William H Seward. Juga cerita Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Cerita Toyotomi Hideyoshi juga demikian. Rival dan musuh Hideyoshi diajak olehnya untuk berunding dan bersatu untuk membangun Jepang," imbuh pensiunan TNI bintang 3 ini.
"Itu napas saya, itu nilai saya, itu cita-cita saya. Demokrasi adalah nilai yang saya junjung tinggi. Sekian catatan saya untuk pagi ini," pungkasnya.
Terkait Penyegelan Kantor TV One, Jokowi Minta Media Jangan Salahkan Relawannya
![]() |
| Buah dari Revolusi Mental ? |
Kandidat presiden nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) meminta media massa tidak ikut memanas-manasi suasana kampanye pemilihan presiden (pilpres).
Hal itu dikatakan Jokowi terkait adanya tindakan pengepungan salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta dan Yogyakarta oleh simpatisan Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) karena pemberitaan stasiun televisi tersebut yang dianggap menyudutkan Jokowi atas isu keterkaitannya dengan PKI.
"Tapi kan medianya ikut bantu manas-manasin. Salah sendiri manas-manasin. Makanya jangan ikut manas-manasin. Jangan sekali-kali salahkan relawan," kata Jokowi saat konferensi pers di Bandung, Kamis.
Jokowi mengatakan tidak memiliki kontrol penuh atas tindakan para relawan ataupun simpatisan meski dalam setiap kesempatan kampanye, dia mengaku selalu mengingatkan relawan agar selalu sabar.
"Meski sudah saya sampaikan di mana-mana bahwa kejelekan harus dibalas kebaikan, tapi kan tidak mungkin semuanya hisa kita handle (tangani--Red). Mungkin kali ini memang sudah keterlaluan sampai mereka bereaksi," kata Jokowi.
Seperti diketahui, Puluhan orang yang mengatasnamakan relawan pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mendatangi Kantor TV One di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (3/7) dini hari. Kedatangan mereka untuk melakukan protes atas pemberitaan yang menyebut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan sarang komunis. Selain stasiun TV One di Jakarta, massa PDIP juga telah menduduki dan menyegel stasiun TV One yang ada di Yogyakarta.
Aksi massa tersebut tak terlepas dari pernyataan Sekretaris Jendral DPP PDI Perjuangan sekaligus ketua tim pemenangan Jokowi-JK Tjahjo Kumolo yang menyerukan seluruh kader partai berada dalam posisi siaga satu. Seruan ini menyusul pemberitaan di stasiun televisi TV One yang memberi kesan PDI Perjuangan mengusung kader Partai Komunis Indonesia (PKI).
"Sikap saya sebagai sekjend partai anggota kader PDI Perjuangan segera kami siaga satu," kata Tjahjo dalam keterangan pers yang dikirimkan Kepala Humas Protokoler DPP PDI Perjuangan, Giyanto, Selasa (2/7).
Tjahjo mengatakan pemberitaan TV One yang menyebut PDIP kawan PKI dan musuh Angkatan Darat merupakan fitnah dalam situasi krisis. Dia mengatakan saat ini PDI Perjuangan sedang menyiapkan surat izin ke Polda Metro Jaya untuk mengepung Studio TV One. "Disiapkan segera mengepung studio TVone- surat Ijin ke Polda Metro kami siapkan," ujar Tjahjo.
(demikian berita dari republika online: http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/07/03/n84diw-jokowi-jangan-salahkan-simpatisan-segel-kepung-kantor-tv-one )
Kalau logika yang dipakai Jokowi seperti ini... ini namanya main hakim sendiri. Bukankah Indonesia adalah negara hukum? Kalau dinilai Tv One melanggar kenapa tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib? Kenapa main hakim sendiri? Terus kenapa selama ini mereka mengecam aksi FPI yang menertibkan pelaku-pelaku kamaksyiatan?
Kalau belum berkuasa saja sudah seperti ini tingkah pendukung dan pemimpinnya, mau dibawa kemana negeri ini? Segala persoalan akan main hakim sendiri? Anarkisme dan vandalisme dibiarkan? Bahkan dimaklumi? Kalau hukum sudah disisihkan, maka persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat akan main hakim sendiri, bisa-bisa perang saudara. Kembali ke hukum rimba. Sungguh sebuah kemunduran yang luar biasa, menyeret kembali negara dalam konflik horisontal. Ini sangat berbahaya.
03:24
faried







